Belum Ada Figur Menonjol di Pilkada Kabupaten Cirebon

SUMBER, (KC).-
Pelawak sekaligus politisi Nurul Qomar merupakan figur yang sangat terkenal di mata masyarakat Kabupaten Cirebon dengan tingkat popularitas 95 persen.

Demikian salah satu kesimpulan survei yang dilakukan DPD PKS Kab. Cirebon awal tahun 2012.

Yang mengejutkan dalam survei itu nama H. Djakaria Machmud (Rekrtor Unswagati Cirebon) dan H. Ason Sukasa (Wakil Bupati Cirebon) paling banyak disebut ketika responden ditanya ke depan sebaiknya Kabupaten Cirebon dipimpin siapa.

Nama-nama lain yang dikenal masyarakat sebagai kandidat kepala daerah antara lain H. Tasia Soemadi Algotas (Ketua DPRD Kab. Cirebon/Ketua DPC PDI Perjuangan Kab. Cirebon), Hj. Sri Heviana Supardi (isteri Bupati Cirebon H. Dedi Supardi), H. Rakhmat (Ketua DPC Partai Hanura Kab. Cirebon, HM. Anwar Asmali (Ketua DPD APTRI Jabar) dan lainnya.

Humas DPD PKS Kab. Cirebon, Arif Rahman, menyatakan, dari nama-nama yang disebutkan diatas, popularitasnya belum ada yang melampaui angka 30 persen.

"Kader internal PKS yang terdeteksi dalam survei yakni antara lain H. Anwar Yasin, Nasirudin dan Elang Kusnandar Prijadikusuma," ujarnya.

Arif mengemukakan, pada pengukuran tingkat keterpilihan, belum ada satupun kandidat yang mencapai elektabilitas yang iopmemadai. Angkanya rata-rata masih dibawah 10 persen.

Walau Qomar sangat dikenal dengan popularitas 95 persen, namun elektabilitasnya masih dibawah 15 persen. Sedangkan hitungan politik secara ilmiah posisi aman elektabilitas ada pada 30 persen. "Mungkin karena pemilukada masih jauh sehingga para responden yang menggambarkan pemilih belum yakin. Situasi berubah bila pemilukada semakin dekat dan para kandidat melakukan pendekatan," katanya.

Survei secara berkala yang dilakukan kader PKS bertujuan menangkap keinginan publik dan memotret situasi politik di daerah. Adapun jumlah responden yang dilibatkan sebanyak 700 orang dengan metode sebagaimana dilakukan lembaga survei Indonesia yakni menerapkan prinsip probabilitas dalam penarikan sampel. Dalam pengambilan sampel, survei menggunakan teknik multistage random sampling.
Ia menambahkan, teknik multistage random sampling dimungkinkan setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih atau tidak dipilih menjadi responden, sehingga pengukuran pendapat dapat dilakukan dengan hanya melibatkan sedikit responden.

"Walau tanpa melibatkan semua anggota populasi, hasil survei dapat digeneralisasikan sebagai representasi populasi," ungkap Arif.
Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menambahkan, survei yang dilakukan juga mengikuti kaedah-kaedah yakni jumlah responden dengan margin of error ± 5% pada tingkat kepercayaan 95%.

Adapun pengumpulan data melalui wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuesioner. Sedangkan kendali mutu survei pewawancara berstatus minimal mahasiswa dan mendapatkan pelatihan. Wawancara dilakukan kontrol secara sistematis dengan melakukan cek ulang di lapangan (spot check) sebanyak 20 persen dari seluruh responden.

"Sedangkan validasi data perbandingan karakteristik demografis dari sampel yang diperoleh dari survei dengan populasi yang diperoleh lewat sensus (BPS)," kata Arif.

Dalam survei itu ditanyakan kepada responden daftar tokoh yang telah diinventarisir dan sosok pemimpin daerah ideal. "Beberapa hal yang berhubungan dengan politik ditanyakan dan ini menjadi bahan bagi PKS untuk melangkah ke depan," ujarnya.